Langsung ke konten utama

Sajak dari yang Terbawah

Sajak dari yang Terbawah


Kugoreskan tajamnya mata pena
Di kedalaman kalbu anak didikku
Kadang ku hapus dan ku tulis kembali
Sajak-sajak tua dan sebait puisi cinta dan lara
Pantun pun aku goreskan
Agar dibenaknya bersemburat tawa

Hah, semakin banyak puisi ku tulis
Aku lelah menanti bapak memberiku tinta perak ataupun emas
Sampai saat ini hanya tinta hitam dan biru
kadang merah darah
dari arang yang belum berabu


Sajak ini untuk Bapak di sana
Petinggi-petinggi yang belum tau aku di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Cinta

Pernyataan Cinta Acep Zamzam Noor 1998 Kau yang diselubungi asap Kau yang mengendap dari seperti candu Kau yang bersenandung dari balik penjara Tanganmu buntung karena menyentuh matahari Sedang kakimu lumpuh Aku mencintaimu Dengan lambung yang perih Pikiran yang kacaukan harga susu Pemogokan serta kerusuhan yang meletus Dimanan-mana. Darah dan airmataku tumpah Seperti timah panas yang dikucurkan ke telinga Kubayangkan tanganmu yang buntung serta kakimu Yang lumpuh. Tanpa menunggu seorang pemimpin Aku merguh besi dan menyemburkannya ke udara Lalu bersama mereka aku melempari toko Membakar pasar, gudang dan pabrik Sebagai pernyataan cinta. Betapa menyedihkannya mencintaimu tanpa kartu kredit Tanpa kamar hotel atau jadwal penerbangan Para serdadu berebut ingin menyelamatkan bumi Dari gempa dahsyat. Kuda-kuda menerobos pagar besi Anjing-anjing memercikkan api dari sorot matanya Sementara aku melepaskan pakaian dan sepatu Ternyata mencintaimu tak semudah turun ke jalan raya Menentang ...

Kontes Review Dhana Discussion

Cerita “Dhana” tentang Aku, Kau, dan Dia secangkir kopi bubuk, hitam pekat ku suguhkan di depan kaca kompiku terlihat, kepulan asapnya melenggok girang, menari-nari menggodaku tanpa henti ku tersentuh, kucumbu bibirnya dengan peluh hangat terasa dalam jiwa, dan ku nikmati seseduk-demi seduk lupa jiwa, raga, dan hampa tak berasa “cangkir itu” melupakan waktuku sesaat ku memandang, dengan lirikan kesut, dekat di depan kaca mataku jam dinding berputar-putar, lelah “mengingatkanku”, tapi, tetap, ku tak hiraukan demikian pun, samar-samar terdengar dari rumah di sana, rumah agung, suara penyeru merdu “ku tak hiraukan” dua puluh lima menit waktu hampir berganti, pukul empat belas tiga puluh lima ku lekas duduk manis, bergoyang ke kanan dan ke kiri, kadang ku putarkan bak rotasi bumi tangan kanan, ku sentuhkan pada tangan kompi kiri, meremas jemarinya, lalu ku tulis kata dalam “cari” “Dhana” ku sentuhnya, ku buka perlahan-lahan, dan sampai di sinilah aku bicara, Dhana, yang ku baca dalam wa...

Sepi

Ketika embun meneteskan bulirnya, aku tepat di bawah itu. Ketika sunyi menyuarkan riuhnya, aku tepat di dekatnya. Ketika langit tertidur lelap, aku tepat di pusaranya. Berdebar, berdentum, berdetak, berbaur dengan kerisauan. Sepa, sepi, sepu, sipu, suapi, sepilar kebimbangan di dada... aku berlari, namun ku dim, aku memanjat, tapi ku diam, aku berdiri, tapi ku bersila, aku tertidur, namun ku terbangun....karena.....sepoy riuhnya angin, karena....semilir hembusan angin, karena....aku tak tahu ini apa? .....dan....ku.... hanya menganga.... bukan, tapi iya.... aku tak tahu....