Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

Sepi

Ketika embun meneteskan bulirnya, aku tepat di bawah itu. Ketika sunyi menyuarkan riuhnya, aku tepat di dekatnya. Ketika langit tertidur lelap, aku tepat di pusaranya. Berdebar, berdentum, berdetak, berbaur dengan kerisauan. Sepa, sepi, sepu, sipu, suapi, sepilar kebimbangan di dada... aku berlari, namun ku dim, aku memanjat, tapi ku diam, aku berdiri, tapi ku bersila, aku tertidur, namun ku terbangun....karena.....sepoy riuhnya angin, karena....semilir hembusan angin, karena....aku tak tahu ini apa? .....dan....ku.... hanya menganga.... bukan, tapi iya.... aku tak tahu....

Aku, Kau

Tapi, Saatku kedipkan mata ini, samar memutih bayangmu menghilang, Tersapu ombak, memudar kabur dan Kau sirna... Kadang kau kembali, Dan Kau bersiul di derunya gemuruh ombak. Memecah keheningan, Membelah kerisauan, Menyapu keresahan, Menghapus kerinduan, Ku.... Lalu.... Kau... Lepas dari pandanganku, Lekas kau membungkuk luluh, Berbaring dan hanyut bersama derasnya arus. Aku tahu, Aku ragu, Aku malu, Kau, Ku, Kau dan Aku, Hanyalah fatamorgana di tengah panasnya surya. Aku cemburu... Tapi.... Kau semakin berlalu... Walau ku semakin merindumu.

Satu

Dalam keheningan aku sendiri, Kala itu, Dalam kerinduan aku menanti, Sosok itu, Dalam kebimbangan aku berjanji, Saat itu, Kau....., Dan aku,........., Pasti akan jadi Satu. Oleh Abu Hasan Al-Asyari

Pukul 04.00 WIB

Ketika aku terbangun di pagi hari Ku usap muka kusam ini Melotot sayup, berkedip pelan, seakan enggan menggerakan badan Tapi, Aku harus bangun Tapi, Aku malas merangkak Hah.... Ini godaan si jalang syaitan Menggodaku agar terus diam Jam dinding seakan bisu Jendelapun seolah enggan menyingkap tirainya Hanya bisikan hati, "masih pagi", Selimut malam, "semakin erat", Iringan tarian AC berdendang bergantian. Namun, Ku tak kan tergoda Itu hanyalah godaan sesat Membelit ikat kuat mengerat. Kring,,, Alarm hp berdendang Waktu menunjukkan pukul 04.00 wib

hanya cerita

malam yang lalu kemarin ku memutar melintasi tol berlubang berderet kontiner berjaan pelan hanya berjarak stangmenyelimpit di atas roda sepeda motor, ojek, berkumis tibalah ku beranjak turun di dpan warung nasi dan lauk ikan bakar dan berkumis, pecel.

Cerita Pagi

Cerita Pagi 23/09/2011   Pagi ini di depan tungku batu Berkerudung selimut kain sarung Beralaskan sebuah kayu Diatas papan berurat sebuah bambu Seoarang lelaki setengah baya di dekatku Lelaki yang kukenal, dalam hari-hariku Terdengar suaranya yang sayup terpupus kayu bakar di tungku dia menatap sebuah kayu di depanya matanya enggan berkedip seolah bingung dan ragu dalam senyumnya mungkin dia teringat kejadian sebelum seperti ini kejadian yang meluluhlantahkan bangunan rumah, seisinya dan hanya meninggalkan seutas kain di tubuhnya kenangan itulah yang menjadikanya seperti ini kehilangan arah dan tujuannya tapi aku yakin sebilah harapan masih tersimpan dibenaknya.

Ku Isap Secangkir Kopi, Ku Teguk Sebatang Rokok, (Oooo…leng)

Ku Isap Secangkir Kopi, Ku Teguk Sebatang Rokok, (Oooo…leng) 20/04/2012 isap ku isap sebatang rokok mengepul memenuhi ruang kamar pojok api menyala di ujung bibir menghiasi malam tanpa bintang asap mengisi pikirku yang hampa tanpa bicara membuang sejuta kejenuhan yang mengepul di dinding hati sejuta nikotin ku teguk secangkir kopi warnanya  hitam cekam tanpa putih dengan gumpalan serbuk menempel di ujung bibir terasa hangat di perut walau penuh kaffein lalu, ku tuak diriku dengan segudang lukisan masa depan mabuk angan dan harapan badan, sempoyongan tangan, lemas tak berdaya kaki, gemetar tak bernyawa mata, melotot lolong telinga, mendengung samar kepala, oleng sinting aku mabuk arak kehidupan ku pandang diriku lewat kaca ku lihat dan ku perhatikan begitu hinanya diri yang konyol ini hanya berbaju gagah, almamater sarjana tapi tak mampu berjalan walau setapak aku mabuk aku meminum sebotol arak dan aku mengisap racun ...

Negeriku, (Putri) Tak Punya Malu, Indonesia

Negeriku, (Putri) Tak Punya Malu Indonesia 20/04/2012 baru saja, 64 tahun lepas dari cengkraman maut berlari memanjakan diri dari pencuri negeri menapaki punggung Sang Garuda tuk temukan jati diri cita-cita bangsa seperti janji yang kau utarakan dengan pasti tanpa sedikitpun ragu di muka ku, kami semua pancasila, adalah lima pejuang tangguh, ku akui menjadi pijakan kaki tuk berlari menjadi raja dan tersimpan dalam di benak sang ratu negeri namun kini ku ragu, malu, dan haru Indonesiaku, terpuruk, lupa daratan mengapung di lautan lupa dimana tempat berpijak hanyut tenggelam karam menentang kehormatan diri merampas hak-hak para ilmuwan mengoyak porandakan cinta para muda mudi sejati menjegal hidup kaum tuna mencoreng diri dengan api murka Negaraku Bangsaku Tanah Airku Indonesia aku malu memanjakanmu

G-a-l-a-u

G-a-l-a-u 19/04/2012 galau  di   malam    Jum’at     galau      hatiku galau       pikirku galau        tingkahku galau mataku galau telingaku galau  karena   semua     galau      ga-lau       ku        galau

Bukan untuk Siapa-Siapa

sesekali rasa sesal datang tatkala bibirmu melebar dan menggertak sesekali rasa sesal datang tatkala matamu melelehkan keceriaan sesekali rasa benci datang tatkala hati ini kalah dalam perang sesekali angin menghilang mendengar tangisan dan jeritan picik melihat senyuman busuk nyanyian yang penuh amis dan nanah ............................................... ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, ................................................... ................................................ untuk siapa karena siapa.... ku tak tahu...........................................

Senja di Pelabuhan Kecil

Senja di Pelabuhan Kecil buat Sri Ayati Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang rumah tua, pada  cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tida berlaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari ari berenang menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak dan kini tanah dan air tidur hilang ombak Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap Sekali tiba di ujung, dan sekalian selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisn bisa terdekap Chairil Anwar (Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir: 1994)

Euforia Hidup

sejuta kenangan tersembunyi dalam benakku impian dan harapan menjadi cibiran pilu di hari yang penuh sesak sembringas dalam akordion lalu petaka tak lekang menghampiri cubitan-cubitan nakal penghuni neraka sesekali merebahkan dinding kepolosanku demi tulang-belulang yang terbekukan karena teriknya hari dinginnya waktu dan tersepuhnya naluri yang sadis dini hari aku terbangun mendengar jeritan sunyi tangisan sang bayi dalam rahim sang istri rebah tak berdaya terlentang di sudut rumah bambu

Pesan Ibu Pertiwi

Pesan Ibu Pertiwi oleh Drs. Ruwiyantoro Anak-anakku seluruh Nusantara Tanah airmu sangat subur Karenanya kamu harus bersyukur Sang surya selalu bercahaya Lautan, daratan sejauh mata memandang Ribuan pulau luas terbentang Nusantara, zamrud hijau khatulistiwa Bangsa asing datang berdagang Kemudian berubah   menjadi penjajah Rakyat di hina, rakyat mengalah Ratusan tahun Belanda menjajah Pahlawan berjuang pantang menyerah Patah tumbuh hilang berganti Rela berkorban demi Ibu Pertiwi Anak-anakku seluruh Nusantara Kalian bertanya dalam kalbu Mengapa penjajah selama itu Penjajah memecah-belah, mengadu domba Tujuh Belas Agustus 1945 Bangsa Indonesia bersatu semua Bertekad merdeka atau mati Penjajah lari dari Bumi Pertiwi Pahlawan ikhlas berkorban segala Memberikan harta dan nyawa Tak mengharap balas jasa Demi tanah air tercinta Anak-anakku   seluruh Nusantara Para pahlawan hanya meminta Ingat selalu dalam kalbu Kalian bangsa yang satu Anak-anakku seluruh nusantara Pesan ibu ...

Fatamorgana

Fatamorgana Kupandangi langit biru di sudut rumah berpelapah tua ku saksikan sang surya berjalan perlahan melangkah setapak demi setapak Sesaat ku memandang, berdiri tegak nyiur muda daun pisang  berhijau, memanjang berderet di sungai  berbatu Berdetak nyawa di dada siapakah diri ini? kenapa aku di sini? apa yang ku cari? Tak ada jawaban resah dan gelisah menyelimuti Ku lihat sesosok wanita muda beranak bocah lelaki  hanya senyuman bergunam keheranan TAK ADA JAWABAN Ku tanya daun-daun melampai ria TAK ADA JAWABAN Ku tanya pada angin menjawab kelelahan TAK ADA JAWABAN Lalu..... Semua bungkam.

Mimpi di Siang Bolong

Mimpi di Siang Bolong trik-trik-trik ... truk-truk-truk ... laju jam berdentang di telinga, kanan dan kiri waktu pukul tiga kurang seperempat aku berbaring di atas kursi panjang  berlajur dua dan empuk berbusa.  nyanyian matahari begitu menyentuh raga semilir angin petang merambah menyelimuti, ketika itu nyawa hilang bagai tertelan jiwa-jiwa siang yang penuh bualan kraaak.... terasa bebatuan menindih badan berat di pundak dan  aku terjepit diantaranya, hanya tangan berurai darah memagang, dan sembari kaki-kaki dililit batu-batu  meremas jari-jari kaki ku tahu ku tak lekang dan kan terlepas dan, nyawaku menggigil kesakitan menahan. hatiku semakin lesu namun, ku buka mata dan membelalak, "ini hanya mimpi"   

Seniman, Bahasa, dan Bangsa

Seniman, Bahasa, dan Bangsa Setelah bersekolah maka jadilah ia penyair-sastrawan-setelah mengerti bahasa dan kata, selanjutnya penyair menciptakan kata kata untuk kaum sekolahan dan dibahasakan di sekolah. maka lahirlah penyair penyair sastrawan sastrawan, seniman di luar sekolah, di luar bahasa dan terus menerus menciptakan karya Bahasa terus bergema, Negeri pun terus berdiri sebab, bahasa adalah salah satu ciri Bangsa. 21 November 2003

Dalam Kamarmu

Dalam Kamarmu Osca C. ‘Ajami Ada kata tak   sempat kurapikan seperti sepi. Kesunyian masuk celah dinding. Menatap gambar-gambar yang mati. Menyingkap segala gelisah Aku berkaca. Ada luka punya siapa Hanya puisi yang kutinggal. Sebelum aku pulang. Sebelum berakhir segalanya. Pada kata yang terus mengembara Pada bumi yang akan melumat kenangan. Pada keinginan yang menjelma takdir. Pada keheningan. Dengarkan aku bernyanyi sebelum pergi dan tak sempat kembali

Puisi

Puisi   (dari   bahasa Yunani kuno :   ποιέω/ποι ῶ   ( poiéo/poió ) = I create ) adalah   seni   tertulis di mana   bahasa   digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya. Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa . Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawaa oraang lain kedaalam keaadaan hatinya. Baris-baris pada puisi dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag dan lain-lain). Hal tersebut merupakan salah satu cara   penulis   untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi kadang-kadang juga hanya berisi satu kata/suku   kata   yang terus diulang-ulang. Bagi pemba...