Langsung ke konten utama

Negeriku, (Putri) Tak Punya Malu, Indonesia

Negeriku, (Putri) Tak Punya Malu
Indonesia
20/04/2012

baru saja, 64 tahun lepas dari cengkraman maut
berlari memanjakan diri dari pencuri negeri
menapaki punggung Sang Garuda
tuk temukan jati diri cita-cita bangsa
seperti janji yang kau utarakan
dengan pasti tanpa sedikitpun ragu
di muka ku, kami semua
pancasila, adalah lima pejuang tangguh, ku akui
menjadi pijakan kaki tuk berlari
menjadi raja dan tersimpan dalam di benak sang ratu negeri
namun kini ku ragu, malu, dan haru
Indonesiaku, terpuruk, lupa daratan
mengapung di lautan
lupa dimana tempat berpijak
hanyut tenggelam karam
menentang kehormatan diri
merampas hak-hak para ilmuwan
mengoyak porandakan cinta para muda mudi sejati
menjegal hidup kaum tuna
mencoreng diri dengan api
murka
Negaraku
Bangsaku
Tanah Airku
Indonesia
aku malu
memanjakanmu





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pernyataan Cinta

Pernyataan Cinta Acep Zamzam Noor 1998 Kau yang diselubungi asap Kau yang mengendap dari seperti candu Kau yang bersenandung dari balik penjara Tanganmu buntung karena menyentuh matahari Sedang kakimu lumpuh Aku mencintaimu Dengan lambung yang perih Pikiran yang kacaukan harga susu Pemogokan serta kerusuhan yang meletus Dimanan-mana. Darah dan airmataku tumpah Seperti timah panas yang dikucurkan ke telinga Kubayangkan tanganmu yang buntung serta kakimu Yang lumpuh. Tanpa menunggu seorang pemimpin Aku merguh besi dan menyemburkannya ke udara Lalu bersama mereka aku melempari toko Membakar pasar, gudang dan pabrik Sebagai pernyataan cinta. Betapa menyedihkannya mencintaimu tanpa kartu kredit Tanpa kamar hotel atau jadwal penerbangan Para serdadu berebut ingin menyelamatkan bumi Dari gempa dahsyat. Kuda-kuda menerobos pagar besi Anjing-anjing memercikkan api dari sorot matanya Sementara aku melepaskan pakaian dan sepatu Ternyata mencintaimu tak semudah turun ke jalan raya Menentang ...

Kontes Review Dhana Discussion

Cerita “Dhana” tentang Aku, Kau, dan Dia secangkir kopi bubuk, hitam pekat ku suguhkan di depan kaca kompiku terlihat, kepulan asapnya melenggok girang, menari-nari menggodaku tanpa henti ku tersentuh, kucumbu bibirnya dengan peluh hangat terasa dalam jiwa, dan ku nikmati seseduk-demi seduk lupa jiwa, raga, dan hampa tak berasa “cangkir itu” melupakan waktuku sesaat ku memandang, dengan lirikan kesut, dekat di depan kaca mataku jam dinding berputar-putar, lelah “mengingatkanku”, tapi, tetap, ku tak hiraukan demikian pun, samar-samar terdengar dari rumah di sana, rumah agung, suara penyeru merdu “ku tak hiraukan” dua puluh lima menit waktu hampir berganti, pukul empat belas tiga puluh lima ku lekas duduk manis, bergoyang ke kanan dan ke kiri, kadang ku putarkan bak rotasi bumi tangan kanan, ku sentuhkan pada tangan kompi kiri, meremas jemarinya, lalu ku tulis kata dalam “cari” “Dhana” ku sentuhnya, ku buka perlahan-lahan, dan sampai di sinilah aku bicara, Dhana, yang ku baca dalam wa...

Sepi

Ketika embun meneteskan bulirnya, aku tepat di bawah itu. Ketika sunyi menyuarkan riuhnya, aku tepat di dekatnya. Ketika langit tertidur lelap, aku tepat di pusaranya. Berdebar, berdentum, berdetak, berbaur dengan kerisauan. Sepa, sepi, sepu, sipu, suapi, sepilar kebimbangan di dada... aku berlari, namun ku dim, aku memanjat, tapi ku diam, aku berdiri, tapi ku bersila, aku tertidur, namun ku terbangun....karena.....sepoy riuhnya angin, karena....semilir hembusan angin, karena....aku tak tahu ini apa? .....dan....ku.... hanya menganga.... bukan, tapi iya.... aku tak tahu....