Ketika embun meneteskan bulirnya, aku tepat di bawah itu.
Ketika sunyi menyuarkan riuhnya, aku tepat di dekatnya.
Ketika langit tertidur lelap, aku tepat di pusaranya.
Berdebar, berdentum, berdetak, berbaur dengan kerisauan.
Sepa, sepi, sepu, sipu, suapi, sepilar kebimbangan di dada...
aku berlari, namun ku dim, aku memanjat, tapi ku diam, aku berdiri, tapi ku bersila, aku tertidur, namun ku terbangun....karena.....sepoy riuhnya angin, karena....semilir hembusan angin, karena....aku tak tahu ini apa?
.....dan....ku....
hanya menganga....
bukan,
tapi iya....
aku tak tahu....
Dalam Kamarmu Osca C. ‘Ajami Ada kata tak sempat kurapikan seperti sepi. Kesunyian masuk celah dinding. Menatap gambar-gambar yang mati. Menyingkap segala gelisah Aku berkaca. Ada luka punya siapa Hanya puisi yang kutinggal. Sebelum aku pulang. Sebelum berakhir segalanya. Pada kata yang terus mengembara Pada bumi yang akan melumat kenangan. Pada keinginan yang menjelma takdir. Pada keheningan. Dengarkan aku bernyanyi sebelum pergi dan tak sempat kembali
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih telah berkenan membaca tulisan kecil ini, semoga bermanfaat. Jangan lupa beri komentar untuk memperbaiki isi blog ini.
Salam sahabat dan sejahtera.....