Cerita “Dhana” tentang Aku, Kau, dan Dia secangkir kopi bubuk, hitam pekat ku suguhkan di depan kaca kompiku terlihat, kepulan asapnya melenggok girang, menari-nari menggodaku tanpa henti ku tersentuh, kucumbu bibirnya dengan peluh hangat terasa dalam jiwa, dan ku nikmati seseduk-demi seduk lupa jiwa, raga, dan hampa tak berasa “cangkir itu” melupakan waktuku sesaat ku memandang, dengan lirikan kesut, dekat di depan kaca mataku jam dinding berputar-putar, lelah “mengingatkanku”, tapi, tetap, ku tak hiraukan demikian pun, samar-samar terdengar dari rumah di sana, rumah agung, suara penyeru merdu “ku tak hiraukan” dua puluh lima menit waktu hampir berganti, pukul empat belas tiga puluh lima ku lekas duduk manis, bergoyang ke kanan dan ke kiri, kadang ku putarkan bak rotasi bumi tangan kanan, ku sentuhkan pada tangan kompi kiri, meremas jemarinya, lalu ku tulis kata dalam “cari” “Dhana” ku sentuhnya, ku buka perlahan-lahan, dan sampai di sinilah aku bicara, Dhana, yang ku baca dalam wa...
salam sahabat
BalasHapussaya datang membawa sejuta angan yang ingin direalisasikan ,sahabatku bangkitlah dari malam sepi ini dengan laptopku berasap hingga tak mengerti diakah merasakannya ckckckckc
Terima kasih sahabat, aku akan bngkit,karna kau yang membangkitkanku,hehe
BalasHapussalam shbt slalu Mbak Dhana.
wah,moga disampain ya ama angin,awan dan hujan,hehe...
BalasHapusTp anginnya ktnya lgi jajan,tlong shabat sampain ya,hehe..slm shbt sob.
BalasHapus